portfolio.analisasibernews.com/ I Pekalongan, Jawa Tengah — Ada ironi yang kembali terlihat di Jalan Asam Binatur, Kelurahan Podosugih, Kecamatan Pekalongan.

Di satu sisi, masyarakat berbicara tentang lingkungan bersih, sehat, dan nyaman. Di sisi lain, tumpukan sampah justru muncul seperti sengaja menguji seberapa panjang kesabaran warga.

Yang lebih ironis, ketika sebagian orang masih merasa cukup dengan membuang sampah sembarangan, warga lainnya harus turun tangan membersihkan apa yang bukan mereka buang.

Tumpukan sampah liar di sepanjang Jalan Asam Binatur tidak sekadar persoalan pemandangan. Bau tidak sedap, lingkungan yang kumuh, serta potensi gangguan kesehatan menjadi konsekuensi yang harus ditanggung bersama.

Pertanyaannya sederhana: kalau bukan masyarakat yang peduli, siapa yang akan membersihkan? Dan sampai kapan warga harus menjadi petugas kebersihan atas perilaku orang yang tidak bertanggung jawab?

Kondisi tersebut akhirnya menggerakkan warga untuk melakukan gotong royong. Kepala Perwakilan (Kaperwil) Jawa Tengah, Ujang Haris, turut turun langsung bersama masyarakat membersihkan tumpukan sampah yang berserakan.

Bukan sekadar datang, melihat, kemudian pergi. Ujang Haris ikut mengangkat dan membersihkan sampah bersama warga.

Di tengah kegiatan tersebut, ia menyampaikan keprihatinannya terhadap kebiasaan membuang sampah sembarangan yang masih terjadi.

«“Hari ini saya bersama warga Jalan Asam Binatur, Kelurahan Podosugih, turut peduli membersihkan sampah yang dibuang oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Saya melihat langsung kondisi di lapangan dan ikut serta membersihkan sampah tersebut bersama masyarakat.”»

Menurut Ujang, kebersihan lingkungan bukan hanya urusan pemerintah. Masyarakat juga memiliki tanggung jawab yang sama untuk menjaga ruang hidup bersama.

Namun, kepedulian masyarakat tentu tidak boleh berhenti pada kegiatan bersih-bersih.

Sebab jika pola pembuangan sampah liar terus berulang, maka gotong royong hanya akan menjadi ritual membersihkan akibat, sementara penyebabnya dibiarkan terus berjalan.

“Harapan saya kepada seluruh masyarakat agar tidak membuang sampah sembarangan. Mari bersama-sama menjaga lingkungan agar tetap sehat, bersih, dan nyaman untuk kita semua,” ujarnya.

JANGAN SAMPAI YANG RAJIN GOTONG ROYONG KALAH DENGAN YANG RAJIN BUANG SAMPAH

Ujang Haris juga mendorong pemerintah kelurahan dan instansi terkait agar tidak sekadar melakukan pembersihan ketika tumpukan sampah sudah menggunung.

Pengawasan, edukasi, pencegahan, hingga penindakan terhadap pelanggaran perlu dilakukan sesuai ketentuan yang berlaku.

Jika memang ditemukan pihak yang sengaja membuang sampah sembarangan, maka identifikasi dan pembuktiannya harus dilakukan secara objektif. Setelah terbukti, barulah mekanisme penindakan dapat dijalankan sesuai aturan.

“Saya mengingatkan kepada oknum yang masih membuang sampah sembarangan agar menghentikan perbuatannya. Jika terbukti melanggar, saya berharap dapat dilakukan penindakan melalui pemerintah kelurahan, dimediasi, dan diberikan sanksi sesuai aturan yang berlaku sehingga ada efek jera,” tegasnya.

Pesannya jelas: lingkungan bukan tempat membuang masalah.

Jalan umum bukan halaman belakang rumah. Selokan bukan tempat sampah. Dan warga lain bukan petugas yang harus terus-menerus membereskan perilaku orang yang tidak peduli.

IRONI DI TENGAH SEMANGAT GOTONG ROYONG

Gotong royong warga Jalan Asam Binatur patut diapresiasi. Tetapi di balik aksi tersebut terdapat pesan yang jauh lebih besar.

Masyarakat sudah menunjukkan kepedulian.

Kini tinggal bagaimana pemerintah dan seluruh elemen terkait memastikan kepedulian tersebut tidak berjalan sendirian.

Sebab akan menjadi ironi jika warga sudah rela memegang cangkul, karung, dan alat kebersihan, sementara pelaku pembuangan sampah sembarangan tetap merasa bebas melakukan hal yang sama setelah lingkungan kembali bersih.

Jangan sampai pagi dibersihkan, malam dikotori lagi.

Kebersihan membutuhkan kesadaran, tetapi pelanggaran juga membutuhkan pengawasan.

Jalan Asam Binatur membutuhkan solusi yang berkelanjutan, bukan sekadar bersih untuk sementara.

Karena pada akhirnya, lingkungan yang bersih bukan hadiah dari pemerintah dan bukan pula pekerjaan segelintir warga.

Ia adalah hasil dari kesadaran bersama—dan ketika kesadaran tidak cukup, aturan harus hadir untuk memastikan kepentingan masyarakat tidak dikalahkan oleh ulah segelintir orang.

Penulis: Ujang Haris

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *