portfolio.analisasibernews.com/

Siswa SMAS Santa Lusia Batang Kuis Lolos Seleksi 100 Ketua OSIS/MPK Terbaik Se-Indonesia

DELI SERDANG — portfolio.analisasibernews.com/.
Di negeri yang sering terlalu sibuk membicarakan siapa yang pantas menjadi pemimpin, seorang siswa justru memilih jalan yang lebih sederhana: membuktikannya melalui proses.

Namanya Yefta Sahala Rajagukguk.

Siswa SMAS Santa Lusia Batang Kuis, Kecamatan Batang Kuis, Kabupaten Deli Serdang, itu berhasil melewati rangkaian seleksi Indonesian Student Leadership Training (ISLT) & Media Edukasi 2026 yang diselenggarakan Hatta Aksara Project di bawah naungan Yayasan Proklamator Bung Hatta.

Yefta dinyatakan sebagai salah satu dari 100 Ketua OSIS/MPK terbaik se-Indonesia yang terpilih menjadi delegasi program kepemimpinan nasional tersebut.

Bukan karena nama besar. Bukan karena panggung yang mewah. Dan bukan pula karena sekadar mengenakan atribut organisasi.

Ia sampai pada titik tersebut melalui seleksi, wawancara, pembekalan, diskusi, pertemuan daring, hingga berbagai penugasan yang harus diselesaikan para calon delegasi.

Dengan kata lain, sebelum seseorang diberi label “pemimpin”, ia terlebih dahulu diuji apakah mampu berproses.

Dan Yefta berhasil melewatinya.

Berdasarkan Letter of Acceptance Nomor 01.1353/HAP/VII/2026, Yefta resmi menjadi delegasi dalam program ISLT 2026.

Saat ditemui portfolio.analisasibernews.com/, Selasa (4/8/2026), Yefta didampingi orang tuanya, Pdt. Samsul Rajagukguk.

Wajahnya masih wajah seorang pelajar.

Tetapi kesempatan yang berada di hadapannya bukan lagi sekadar urusan kegiatan sekolah.

Ia akan membawa nama sekolah, daerah, dan menjadi bagian dari pertemuan para pelajar yang diproyeksikan sebagai generasi kepemimpinan masa depan Indonesia.

Bukan Sekadar OSIS, Tetapi Laboratorium Kepemimpinan

Program ISLT 2026 dirancang untuk membentuk generasi muda yang memiliki karakter, integritas, empati sosial, semangat gotong royong, serta kemampuan menjalankan kepemimpinan secara partisipatif.

Seleksinya pun tidak berhenti pada kemampuan berbicara.

Para peserta dinilai dari berbagai aspek, antara lain kepemimpinan, berpikir kritis, kemampuan berkolaborasi, kepedulian sosial, dan komitmen memberikan kontribusi bagi sekolah maupun masyarakat.

Ironinya sederhana.

Di saat sebagian orang dewasa sibuk mencari jabatan untuk disebut pemimpin, anak-anak sekolah justru sedang belajar bahwa kepemimpinan bukan soal gelar.

Kepemimpinan adalah kemampuan mendengar, bekerja bersama, mengambil tanggung jawab, dan berani memberikan manfaat.

Delapan Hari Menempa Diri di Sumatera Barat

Berdasarkan informasi dari tim penyelenggara, M. Hafiz Al Habsy, S.A.P., rangkaian ISLT 2026 akan berlangsung pada 11–18 Agustus 2026 di Kota Padang, Kota Bukittinggi, dan Kabupaten Agam, Sumatera Barat.

Selama delapan hari, para delegasi akan mengikuti berbagai agenda kepemimpinan dan pembelajaran.

Mulai dari orientasi peserta, pelatihan kepemimpinan, pembelajaran kolaboratif, boardgame masyarakat kooperatif, hingga kunjungan ke DPRD Provinsi Sumatera Barat dan Kantor Wakil Gubernur.

Para peserta juga akan diajak menelusuri sejarah perjuangan Bung Hatta, melakukan refleksi kepemimpinan, serta mengikuti Upacara Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia di Istana Gubernur Sumatera Barat.

Lima kompetensi utama menjadi bagian penting dari proses tersebut:

Empathy, Collaborative Orientation, Civic Engagement, Leadership Self-Efficacy, dan Social Innovation Orientation.

Lima istilah itu mungkin terdengar akademis.

Namun maknanya sesungguhnya sederhana: merasakan, bekerja bersama, peduli kepada bangsa, percaya pada kemampuan memimpin, dan menciptakan solusi sosial.

Dari Batang Kuis Menuju Panggung Indonesia

Keberhasilan Yefta Sahala Rajagukguk menjadi bagian dari 100 Hatta Muda Indonesia menjadi kebanggaan tersendiri bagi SMAS Santa Lusia Batang Kuis.

Namun prestasi tersebut semestinya tidak berhenti pada sebuah sertifikat, surat penerimaan, atau foto bersama.

Justru di sinilah tantangan sesungguhnya dimulai.

Sebab menjadi pemimpin muda bukan tentang seberapa sering seseorang disebut hebat.

Pemimpin diuji setelah tepuk tangan berhenti.

Apakah ia tetap peduli ketika tidak ada kamera?

Apakah ia tetap mau mendengar ketika pendapatnya tidak menjadi yang utama?

Apakah ia mampu bekerja bersama ketika kepentingan pribadi harus dikesampingkan?

Dan yang paling penting, apakah ilmu yang diperoleh mampu kembali menjadi manfaat bagi sekolah dan masyarakat?

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang kelak akan menjadi ukuran sesungguhnya.

Prestasi yang Harus Pulang Membawa Manfaat

Yefta kini memiliki kesempatan untuk belajar bersama para pelajar terbaik dari berbagai daerah di Indonesia.

Namun keberangkatan menuju Sumatera Barat bukan sekadar perjalanan geografis.

Ini adalah perjalanan untuk mengenal Indonesia dari lebih dekat.

Dari sejarah perjuangan Bung Hatta, dinamika masyarakat, ruang pemerintahan, hingga pengalaman bertemu anak-anak muda dengan latar belakang yang berbeda.

Harapannya, pengalaman tersebut tidak hanya membuat Yefta menjadi siswa yang lebih percaya diri.

Tetapi menjadi pribadi yang lebih peka, lebih kritis, lebih kolaboratif, dan lebih bertanggung jawab.

Sebab bangsa ini tidak kekurangan orang pintar.

Yang selalu dicari adalah manusia yang mau menggunakan kepintarannya untuk kepentingan orang lain.

Dari Batang Kuis, sebuah nama kecil sedang menempuh perjalanan besar.

Yefta Sahala Rajagukguk.

Bukan sekadar Ketua OSIS.

Bukan sekadar siswa yang lolos seleksi.

Tetapi seorang pelajar yang kini sedang diberi kesempatan untuk membuktikan bahwa kepemimpinan masa depan Indonesia bisa dimulai dari ruang kelas, dari halaman sekolah, bahkan dari sebuah daerah yang jauh dari pusat kekuasaan.

Dan mungkin, di situlah ironi paling indahnya:

Indonesia tidak selalu menemukan calon pemimpinnya dari gedung-gedung tinggi. Kadang, ia tumbuh diam-diam dari bangku sekolah.

DELI SERDANG — portfolio.analisasibernews.com/
Penulis: Paulus Limbong
Jabatan: Wakaperwil Sumatera Utara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *